Tidak Akan Meninggalkan Perusahaan Dalam Masa Sulit

Insight


ILUSTRASI. Gabriel Maryamto Sunu, Direktur Utama PT Dyandra Media International Tbk (DYAN)

Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Anastasia Lilin Yuliantina

BERITAASLI.COM – Semangat Gabriel Maryamto Sunu tetap menyala di tengah pandemi Covid-19. Dengan prinsip Fortiter in Re, Suaviter in Modo yang berarti kuat dalam prinsip, fleksibel dalam eksekusi kerja, dia ingin mengantarkan PT Dyandra Media International Tbk kembali bangkit. Sunu berjanji tidak akan meninggalkan perusahaan itu dalam masa sulit.

Sempat pensiun tahun 2017, Sunu tak kuasa menolak tawaran pimpinan Grup Kompas Gramedia untuk memimpin PT Dyandra Media International Tbk (DYAN). Perusahaan tersebut bergerak dalam bisnis meeting, incentives, conference, exhibitions (MICE).

Sunu mendapatkan kepercayaan untuk menduduki posisi Direktur Utama Dyandra dan sekaligus menggantikan Adrian Sebastian Herlambang yang sebelumnya mengundurkan diri karena sakit. “Saya ditunjuk Pak Liliek Oetama (CEO Kompas Gramedia) untuk bertugas di Dyandra tahun 2018,” kata dia kepada BERITAASLI.

Sunu mengambil kesempatan tersebut karena ingin berkontribusi dan memberikan sesuatu yang lebih. Di sisi lain, dia juga merasa sudah mengetahui pengelolaan tiap unit bisnis serta proses bisnis yang berjalan di perusahaan.

Baca Juga: Arsjad Rasjid: Saya Akan Berdayakan Kadin Daerah

Asal tahu saja, semula Sunu tak pernah berpikir untuk terjun berkarier di sektor swasta. Sejak duduk di bangku SMA dan masuk kuliah, dia menyimpan cita-cita menjadi seorang politisi atau anggota DPR. Cita-cita itu datang karena kekagumannya melihat seorang politisi dengan tutur kata yang terstruktur.

Lantaran kagum, Sunu kemudian ingin mengambil jalan karier yang sama. Dia mendaftarkan diri ke jurusan Hubungan Internasional dan Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1977.

Tahun pertama dan kedua menempuh pendidikan, Sunu masih bermimpi menjadi politisi. Dia pun rajin mengikuti organisasi dan mempertahankan nilai-nilai kebaikan.

Pada tahun ketiga perkuliahan, Suni bahkan mulai terjun ke dunia politik. Dia menjadi anggota sebuah partai besar sebagai angkatan muda. Namun, di saat yang sama pula Sunu menemukan kesadaran lain.

Dia melihat dunia politik secara riil tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. “Banyak hal yang tidak sinkron sehingga idealisme untuk menjadi anggota DPR atau politikus tidak lagi menjadi cita-cita saya,” ungkap bapak dari dua anak tersebut.

Baca Juga: Anindya Bakrie: Kadin Harus Lebih Membumi

Namun begitu, Sunu juga tak lantas serta-merta tertarik bekerja di sektor swasta. Arah hidupnya kala itu bergeser dengan menjadi dosen.

Pasca lulus dari UGM, Sunu mendaftarkan diri sebagai dosen di beberapa universitas. Salah satunya di Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan.

Tak lama berselang, Sunu melihat kesempatan lain di Kompas Gramedia (KG) Jakarta. Dia akhirnya mendaftarkan diri ke KG dan memperoleh kesempatan bekerja di bagian personalia atau human resources (HR) pada awal tahun 1980-an. Siapa sangka, itu adalah awal mula kariernya yang kemudian bertahan selama 30-40 tahun di KG.

Pekerjaan sebagai HR membuat Sunu harus berada di tengah-tengah kepentingan perusahaan. Dalam arti, dia harus bisa mewadahi aspirasi karyawan tapi pada saat yang sama menjadi wakil perusahaan.

Keseimbangan itu wajib agar aspirasi dan keharmonisan dalam serikat pun terjaga. “Saat itu, bisa dikatakan Kompas Gramedia (KG) menjalani masa terbaiknya sehingga atas dasar kinerja di kantor, saya dipercaya Almarhum Pak Jakob Oetama (pendiri Kompas Gramedia) melanjutkan sekolah pada tahun 1995,” kata Sunu.

Sunu menjadi salah satu peletak dasar sistem terintegrasi yang berjalan di Kompas Gramedia. Sunu mempelajari sistem training, remunerasi hingga menyusun parameter yang harus dicapai unit bisnis KG.

Baca Juga: Kenali Diri Sendiri, Direktur Mansek Theodora Manik Pilih Saham LQ45

Dengan sokongan perusahaan, tahun 1995 Sunu bertolak ke Amerika Serikat untuo melanjutkan sekolah di University of Illinois at Urbana Champaign (UIUC) dengan subjek International Excecutive Development Program in Master of Science. Dia menghabiskan waktu belajar hingga tahun 1997 atau pada saat Indonesia dilanda krisis moneter dan krisis politik.

Saat kembali ke Indonesia, tak lama kemudian KG melakukan restrukturisasi. Sunu dipercaya menjabat Asisten Direktur Bidang HR.

Tahun 2005, Sunu menjabat sebagai Direktur Corporate Human Resource KG. Kala itu, Direktur Utama KG adalah Agung Adiprasetyo. Pada masa itu, Sunu banyak mengambil pelajaran berharga dari Agung Adiprasetyo.

Ada satu perkataan Agung Adiprasetyo yang membekas mengenai peninggalan yang bisa diwariskan kepada perusahaan. “Secara singkat, Pak Agung memberi petuah, bekerja itu bukan soal lama atau tidaknya memimpin perusahaan tetapi tentang apa yang bisa diwariskan untuk kelangsungan perusahaan,” kenang Sunu.

Sewaktu menjabat di posisi puncak HR, Sunu telah membangun sistem remunerasi, parameter pencapaian, hingga sertifikasi SDM yang dipakai hingga kini. Jabatan tersebut dia emban hingga tahun 2008.

Pendidikan

1977–1982 Fakultas Sosial & Politik Universitas Gadjah Mada
1995–1997 International Executive Development Program in Master of Science in Business Administration, University of Illinois at Urbana Champaign (UIUC), Amerika Serikat

Perjalanan Karier

2005–2008 Corporate Human Resource Director Kompas Gramedia
2008–2016 Corporate Secretary & General Manager of Corporate Strategy Management Kompas Gramedia
2016–2017 Corporate Strategy Management Director Kompas Gramedia
2018–2020 Direktur & Corporate Secretary Dyandra
2020–sekarang Presiden Direktur PT Dyandra MediaInternational Tbk

Sumber: wawancara BERITAASLI

Sistem baru tersebut sekaligus membentuk parameter dan target kinerja untuk jajaran direktur maupun karyawan serta unit bisnis lain. Selain target dan kinerja bisnis, perusahaan juga bisa mengevaluasi kerja.

Belum lagi, sistem baru juga menyatukan langkah setiap komponen di KG dan mendorong budaya inovasi. Jadi ketika berbicara soal tujuan perusahaan, setiap karyawan memiliki satu suara. Setiap lini perusahaan memegang kesepakatan mengenai tujuan harus dicapai.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts