Bos OJK sebut penurunan suku bunga kredit tak menjamin bikin kredit bank bertumbuh

Keuangan


ILUSTRASI. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Yudho Winarto

BERITAASLI.COM – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati upaya pemulihan ekonomi akan berjalan dengan baik jika semua pihak tidak berjalan sendiri. Namun harus selalu melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pihak terkait dalam mengeluarkan kebijakan.

“Penurunan suku bunga kredit bukan satu-satunya solusi untuk mendorong pertumbuhan kredit. Berdasarkan data OJK, tren suku bunga menurun yang terjadi di masa pandemi juga belum mampu menjadi stimulus pelaku usaha untuk menggunakan fasilitas kreditnya,” papar Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam keterangan tertulis pada Juamt (26/3).

Baca Juga: BI, Pemerintah, dan OJK dorong kredit dan pembiayaan dunia usaha

Lanjutnya, pantauan OJK juga menunjukkan bahwa penurunan bunga kredit modal kerja dan investasi tidak mempengaruhi jumlah penyaluran kredit perbankan.

“Saat ini, dibutuhkan bagaimana mengembalikan demand masyarakat. Efektivitas vaksin akan menjadi game changer bagi percepatan pemulihan ekonomi nasional karena akan memberikan kepercayaan bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas normal kembali,” tambah Wimboh.

Ia menyebut sektor jasa keuangan sangat siap untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor yang memberikan dampak besar bagi penciptaan lapangan kerja dan perekonomian nasional.

Sejak Januari 2020 suku bunga acuan BI telah mengalami penurunan sebesar 150 bps. Penurunan tersebut telah ditransmisikan oleh perbankan sehingga Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) periode yang sama turun sebesar 101 bps dari 11,32% menjadi 10,32%. Suku Bunga Kredit (SBK) turun sebesar 95 bps (dari 12,99% menjadi 12,03%).

Baca Juga: Indeks sektor properti masih melemah sejak awal tahun, ini rekomendasi dari analis

Penurunan tersebut berasal dari penurunan Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK) sebesar 86 bps dari 5,61% ke 4,75%. Sedangkan penurunan overhead cost sebesar 29 bps dari 3,18% ke 2,89%.

Sementara profit margin dan premi risiko naik masing-masing 14 bps dari 2,53% ke 2,68% dan 5 bps dari 1,66% ke 1,71%.

“Hal tersebut menunjukkan masih terdapat potensi penurunan SBDK dan SBK dari penurunan profit margin. Selain itu, suku bunga dana (deposito 12 bulan) juga mengalami penurunan sebesar 122 bps dari 6,87% menjadi 5,64%,” pugkas Wimboh.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di BERITAASLI Store.





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts